PBB, New York (KABARIN) - Juru bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan kekhawatiran organisasi internasional itu terkait aktivitas militer di Lebanon di tengah perang antara Iran melawan AS-Israel pada Senin (2/3).
Kekhawatiran ini muncul setelah kelompok Hizbullah menyatakan dukungan penuh kepada Iran dan rakyatnya menyusul serangan AS dan Israel ke wilayah Iran.
Hizbullah kemudian melancarkan beberapa serangan ke wilayah Israel, yang dibalas Israel dengan menargetkan sejumlah lokasi militer kelompok itu di Lebanon.
"Di Lebanon, di mana kami memiliki kehadiran politik dan pasukan penjaga perdamaian, ketegangan juga meningkat. Kami sangat prihatin atas baku tembak di sepanjang Garis Biru. Situasi di lapangan berkembang dengan cepat, dan kami memantau perkembangan tersebut secara saksama," ujar Dujarric kepada wartawan.
Dujarric menambahkan bahwa PBB mencatat adanya penembakan yang diarahkan ke Israel dan serangan balasan Israel terhadap sejumlah lokasi di Lebanon.
"Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL kami di sana tetap berada di posisinya meskipun dalam situasi yang penuh tantangan," tegas Dujarric.
Serangan awal dari Amerika Serikat dan Israel terjadi pada Sabtu (28/2) menargetkan beberapa lokasi di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan kerusakan serta korban sipil.
Serangan itu juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei beserta sejumlah pejabat senior pemerintah dan militer.
Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai titik Timur Tengah, yang semakin meningkatkan ketegangan di kawasan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026